"Juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku." (Mzm. 139:10)
Seorang pembuat pensil telah selesai membuat satu kotak pensil yang siap dipasarkan. Ketika memasukkan pensil itu satu per satu ke kotaknya, dia berkata, "Aku akan memberi kalian nasihat sebelum kalian keluar dari pabrikku. Ada tiga pelajaran penting yang harus kalian ingat.
Pertama, kalian hanya berguna jika berada di tangan yang tepat. Jika tidak ada tangan yang memegang kalian dan menggunakannya, maka kalian hanyalah seonggok kayu bundar panjang yang tidak berguna. Oleh sebab itu, kalian harus mau dipegang oleh tangan itu.
Kedua, sebelum digunakan, kalian harus diraut dan dipertajam dulu. Tanpa itu, kalian tidak bisa dipakai apa-apa baik untuk menulis, menggambar maupun merancang bangunan. Proses perautan dan peruncingan itu memang menyakitkan, tetapi semua itu harus kalian jalani.
Ketiga, ingatlah bahwa bagian terpenting di dalam diri kalian ada di dalamnya. Bagian hitam yang dibungkus kayu itulah yang merupakan inti dari sebuah pensil. Tanpa bahan itu, kalian hanyalah kumpulan potongan-potongan kayu tak berguna.
Belajar dari ucapan pembuat pensil di atas, kita pun memahami bahwa kita harus mengerti 3 kebenaran ini:
Pertama, kita hanya seonggok daging dan tulang yang tidak ada artinya tanpa Tuhan. Tanpa hembusan nafas Tuhan, Adam hanyalah berupa segumpal tanah. Agar menjadi manusia seutuhnya kita harus mau mengikuti kehendak Tuhan. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, kamu jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkah kamu dalam hidup ini. Kita menyebutnya tangan Tuhan. Serahkanlah hidupmu dan Tuhan akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya
Kedua, ada ungkapan, "To accept Jesus costs nothing, but to follow Jesus costs everything!" Untuk menerima Yesus kita memang tidak membutuhkan apa-apa kecuali hati yang terbuka. Namun, untuk mengikuti Yesus kita perlu menyerahkan segalanya. Agar menjadi manusia yang semakin disempurnakan, kita harus rela dibentuk oleh-Nya. Seperti pensil yang diraut, proses penajaman ini pasti akan membuat si pensil menderita. Tapi setelah itu, si pensil akan mendapatkan ketajamnnya kembali. Begitu juga dengan kamu. Dalam hidup ini kamu harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik. Prosesnya seringkali menyakitkan, namun hasilnya layak diperjuangkan.
Ketiga,yang penting bukanlah yang ada di luar dirimu. Yang penting, yang utama dan yang paling berguna adalah yang ada di dalam dirimu. Itulah yang membuat dirimu berharga dan berguna bagi sesamamu. Marilah kita perkuat terus manusia batiniah kita sampai akhir.
Selain itu, ada hal yang patut dipelajari dari pensil, yaitu:
* Pensil selalu meninggalkan tanda / goresan. Seperti juga kamu , kamu harus sadar kalau apapun yang kamu perbuat dalam hidupini akan meninggalkan atau kesan. Oleh karena itu selalu hati – hati dan sadar terhadap semua tindakan yang kamu lakukan.
* Pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata – kata yang salah. Oleh
karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar.
"I am God's pencil, a tiny bit of pencil with which He writes what he likes; He writes through us, and however imperfect we may be, He writes beautifully" -- Blessed Teresa of Calcutta
Sumber:
-Kisah Inspirasional Plus
Friday, August 20, 2010
lesson from a pencil
9:55 AM
No comments









0 comments:
Post a Comment